rangkaian kata by : Intan Khairunisa (my beloved sister)

“Intan mau pilih yang mana?” tanya ibuku dengan senyum yang begitu tulus.

“Ini saja, Intan suka gambarnya, Bu”, jawabku dengan riang.

Itu sedikit perbincanganku dengan ibuku di sebuah toko buku di salah satu pusat perbelanjaan di kota Tegal. Ya, saat itu aku sedang jalan-jalan, hanya berdua dengan ibu, dan ibuku mengajakku ke toko buku. Mungkin itulah kali pertamanya aku masuk ke sebuah toko buku, yang membuatku takjub karena di dalamnya terdapat banyak sekali buku. Saat itu aku baru bisa atau lebih tepatnya lancar membaca, dan ibuku berniat membelikan aku buku cerita. Aku memilih buku yang berjudul Heidi dan satunya aku tidak ingat judulnya, yang jelas, buku Heidi itu sangat colorful sedangkan yang satunya hanya penuh warna di bagian sampulnya saja.

Sesampainya di rumah, aku bergegas membuka buku cerita Heidi, membacanya dengan perlahan tetapi pasti, juga mengamati gambar-gambarnya yang menurutku sangat indah. Aku sangat menyukai buku itu. Yang aku pikirkan saat itu adalah aku ingin menunjukkannya kepada teman-temanku dan mengajak mereka untuk membacanya bersama-sama. Akan tetapi, pada saat itu teman-temanku belum begitu mahir membaca, sehingga aku memutuskan untuk mengajak mereka membaca cerita Heidi itu nanti, pada saat yang tepat ketika mereka benar-benar sudah mahir membaca. Aku sempat terkejut ketika ada sebuah halaman di buku itu yang menunjukkan cara berdoa orang nasrani. Ya, tokoh dalam buku itu ternyata bukan muslim. Aku pun menanyakannya pada ibuku, “Ini gambar apa, Bu? Kok berdoanya berbeda dengan kita?” Ibuku ternyata juga terkejut melihat gambar itu, karena pada saat membeli, buku itu tersegel rapi sehingga ibu tidak dapat mengecek isinya terlebih dahulu. Ibu lantas memberi pengertian bahwa kita muslim, dan tokoh dalam cerita itu beragama kristen. Kita berbeda dengan mereka, tetapi kita juga harus menghormati mereka. Ya, aku mengerti perbedaan itu.

Meskipun begitu, aku tetap menyukai buku Heidi. Aku selalu membawanya kemana-mana, hingga ke tempat tidur. Buku itu pun masih kusimpan hingga saat ini. Ceritanya sangat menarik. Intinya, Heidi, seorang gadis kecil penggembala kambing, mampu memberi motivasi kepada seorang remaja yang kakinya lumpuh dan tak dapat berjalan. Heidi memberi semangat kepada remaja itu untuk tidak berputus asa, dan singkat cerita, remaja itu pun dapat berjalan kembali dengan kedua kakinya. Siang dan malam aku tak bosan membaca cerita Heidi, juga mengamati gambarnya. Sejak saat itu, kebiasaan buruk sering kulakukan. Ya, aku sering membaca buku-buku ceritaku sambil tiduran. Kala itu aku belum memakai kacamata. Ya, belum memakai kacamata.

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan, aku naik ke kelas 2 SD. Di awal kelas 2, aku belum merasakan perbedaan yang berarti dalam penglihatanku. Semua yang ada di sekelilingku masih terlihat begitu jelas, tanpa harus memakai kacamata. Seiring berjalannya waktu, menjelang kenaikan kelas, guruku mengadakan ulangan harian, entah ulangan pelajaran apa, aku tidak begitu ingat. Aku dan teman-temanku pun belajar maksimal dengan harapan dapat mengerjakan ulangan itu dengan baik. Namun, semua tak berjalan lancar. Pada saat ulangan, aku kebagian tempat duduk di pojok paling belakang. Lonceng besar di depan ruang guru itu pun berbunyi. Anak-anak kecil berseragam merah putih yang tak lain adalah kawan-kawanku, siswa-siswi SD N Kepandean 3, berlarian menuju kelas mereka masing-masing. Guruku, Bu Asih namanya, masuk ke kelasku, kelas 2A, dan menyuruh ketua kelas memimpin kita semua berdoa sebelum memulai pelajaran pertama. Setelah usai berdoa, Bu Asih lantas mengatakan bahwa tidak boleh ada buku di atas meja. Yang ada hanya secarik kertas untuk ulangan. Aku menunggu pembagian soal itu, tetapi tak kunjung datang ke tempat dudukku di pojok belakang. Ternyata, Bu Asih menuliskan soalnya di papan tulis hitam yang untuk menulisnya harus menggunakan kapur tulis.

Aku mulai cemas dan gelisah tak menentu, karena yang kulihat di papan tulis hitam saat itu hanyalah coretan-coretan tak beraturan. Aku tak bisa membacanya. Tak biasanya tulisan Bu Asih terlihat sangat tidak beraturan. Aku bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa tulisan di papan tulis itu sangat tidak jelas? Bagaimana aku bisa mengerjakan ulangan dengan cara seperti ini?”. Akhirnya aku mengerjakan ulangan itu dengan jawaban sekenanya saja tanpa tau pasti pertanyaannya. Nilai ulanganku pun pas-pasan, tak sebaik nilai teman-temanku. Hari-hari berikutnya ketika aku duduk di barisan belakang, lagi-lagi tulisan yang kulihat di papan tulis hitam itu sangat tak beraturan, dan tak dapat kubaca. Sejak saat itu nilai-nilaiku di kelas semakin menurun.

Suatu hari di kala aku duduk di barisan paling depan, aku merasa lebih baik dari sebelumnya, karena tulisan Bu Asih terlihat lebih jelas. Ya, terlihat lebih jelas ketika aku duduk di barisan paling depan. Aku sungguh tak mengerti apa yang terjadi dengan penglihatanku. Aku pun menceritakan hal ini kepada kedua orang tuaku. Mereka terkejut dan mengkhawatirkan keadaanku. Ketika ibu dan ayah hanya berbincang berdua, aku tak sengaja mendengar perbincangan itu tanpa sepengetahuan mereka. Yang kucerna dari perbincangan itu adalah, ibu khawatir jika mataku minus, karena hampir semua adik-adik ibuku, yang kerap kupanggil dengan sebutan bule’ dan om, memakai kacamata, termasuk ibuku, karena mengalami rabun jauh, atau dalam bahasa ilmiahnya miopi. Ya, bisa dikatakan bahwa rabun jauh itu penyakit yang menurun. Saat itu aku belum mengerti apa itu mata minus, rabun jauh, atau miopi. Akhirnya ibu mengajakku untuk periksa ke dokter. Aku pun tak menolaknya. Aku bertanya pada ibu, seperti apa pemeriksaan mata, apa yang harus kulakukan ketika diperiksa, dan apakah aku akan merasa kesakitan karena harus disuntik dalam pemeriksaan itu? “Intan nanti harus menyebutkan huruf atau angka yang terpampang di papan tes mata, yang ditunjuk oleh dokter. Intan hanya perlu duduk tegak di sebuah kursi yang berjarak sekitar tiga meter dari papan tes mata, dan memperhatikan huruf atau angka yang ditunjuk oleh dokter, kemudian sebutkanlah huruf itu. Tenang saja, dokter tak akan menyakitimu, nak”, jelas ibuku.

Angin sore bertiup tak terlalu kencang. Namun terasa begitu kencang ketika aku diboncengkan sebuah motor, yang mana pengemudinya adalah ibuku, wanita berhati mulia yang begitu tulus menyayangiku. Aku tak mengerti ke dokter mana kami akan pergi. Yang jelas, di sepanjang perjalanan itu, batinku tak berhenti menghafalkan huruf-huruf yang akan kusebutkan nanti, ketika diperiksa oleh dokter. Ya, aku menghafalkan urutan huruf-huruf yang akan kusebutkan ketika dokter menunjuk beberapa huruf di papan tes mata. Aku terus bergumam, A, C, B, B, N, D, R, F, A, terus, dan terus memikirkan huruf apa yang akan kusebutkan jika aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Bisa dibayangkan betapa tegang dan takutnya aku saat itu.

Akhirnya sampai juga kami di sebuah klinik di wilayah Pelabuhan Tegal, dekat dengan kediaman eyangku yang kini telah berpulang ke rahmatullah. Ibu menyuruhku duduk di kursi tunggu berwarna putih yang cukup panjang, sementara ibu mengurus administrasi. Ibu menghampiriku dan menasihatiku agar tidak tegang ketika diperiksa. Nampaknya tak perlu kuceritakan, ibu mengetahui betapa tegang dan risaunya aku kala itu. “Intan Khairunisa!!”, begitu suara yang terdengar dari dalam ruangan itu. Ya, namaku dipanggil. Ini giliranku untuk diperiksa. Ya, giliranku. Ibu menggandeng tanganku dan kami berjalan menuju ruang periksa. Raut wajahku penuh ragu, tegang, risau, dan batinku tak henti menghafal huruf-huruf. Yang kupikirkan saat itu adalah huruf-huruf. Aku semakin tegang, terlebih ketika aku melihat dokter yang akan memeriksaku. Dokternya perempuan, berbadan besar, tak terlalu tinggi, rambutnya sebahu, bergelombang, dan kala itu memakai bando. Pembawaannya begitu menakutkan, membuat mentalku semakin ciut untuk diperiksa. Aku menahan keteganganku itu, diam, dan menggenggam jemari ibuku dengan erat. Ibu menjelaskan keluhanku kepada ibu dokter. Tak lama kemudian, dokter menyuruhku duduk di kursi yang menghadap ke papan tes mata. Ya, pemeriksaan itu pun dimulai. Jantung ini berdegup kencang, tetapi kucoba untuk menenangkan diri dengan menarik nafas panjang. Ya, aku harus yakin, aku pasti bisa! Dokter menunjuk huruf yang paling besar di papan itu, satu baris, dua baris, aku lancar menyebutkan huruf yang ditunjuk dokter. E, D, A, A, C, B, Z, entah apa saja hurufnya, aku tak begitu ingat. Namun, semakin ke bawah, ukuran huruf itu semakin kecil dan aku menyebutkan huruf-huruf itu sekenanya saja, karena semakin kecil ukuran huruf itu, akan semakin sulit untukku mengetahui huraf apa itu. Dokter menggelengkan kepala, karena ketika dokter menunjuk huruf yang semakin kecil, semakin salah aku menyebutkannya. Aku sengaja menyebutkan huruf-huruf kecil itu dengan asal, sesuai dengan yang kuhafalkan di jalan, karena aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Aku benar-benar ingin tes mata ini cepat usai. Akhirnya aku katakan pada dokter, “Tidak jelas, dokter!” Ya, aku sudah tidak tahan dengan ketidakjelasan itu, ingin beranjak dari kursi itu, dan berharap pemeriksaan itu segera berakhir.

Pemeriksaan itu pun usai dan ibuku langsung bertanya pada dokter,

“Bagaimana, dokter? Apa yang terjadi dengan penglihatan anak saya?”

”Sepertinya putri ibu mengalami rabun jauh, tetapi masih dalam observasi. Saya belum begitu yakin karena anak sekecil ini sudah tak dapat melihat huruf-huruf kecil dari jarak jauh. Untuk sementara, saya beri resep, nanti obatnya jangan lupa diminum ya, dek Intan, ya.. Kalau obatnya sudah habis, nanti kontrol lagi kesini,” jawab dokter.

“Baik, dokter. Kalau begitu terima kasih,” sahut ibu.

Aku dan ibu keluar dari ruang periksa dan menuju apotek di klinik itu untuk menebus obat. Lagi, aku duduk di kursi panjang berwarna putih. Ibu menghampiriku dan menatapku. Tatapannya berbeda, tak seperti biasanya. Wajah ibu tampak sayu. Boleh jadi ibu sedih mendengar pernyataan dokter tadi. Tak lama kemudian, namaku dipanggil oleh petugas apotek. Ya, obatnya telah siap dibawa pulang.

Hari demi hari, ibuku selalu mengingatkanku untuk minum obat. Ibu terlebih dahulu harus menghaluskan obat-obat itu agar aku mau meminumnya. Ya, bagiku memang sulit untuk menelan obat tanpa dihaluskan terlebih dahulu. Meski pahit getirnya obat begitu terasa, tak mengapa bagiku. Yang terpenting adalah obat itu dapat kucerna, dan aku bisa sembuh. Di sekolah, aku memilih untuk terus duduk di barisan depan agar bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Beruntung, teman-temanku mengizinkan.

Sekitar satu minggu kemudian, aku periksa lagi ke dokter yang sama, dan di klinik yang sama pula. Tentunya bersama ibu, wanita tangguh, yang rela bertaruh nyawa demi kehadiranku di muka bumi. Kali ini aku tidak tegang. Mungkin belajar dari pengalamanku saat kali pertamaku periksa mata. Ibu dokter pun tak seseram yang kubayangkan. Ya, meski penampilannya begitu menakutkan, tetapi ibu dokter begitu baik hati. Aku kembali menyebutkan huruf-huruf di papan tes mata itu, yang ditunjuk oleh dokter. Kali ini aku hanya menyebut huruf-huruf yang dapat kulihat dengan jelas. Jika huruf itu tidak jelas, kukatakan tidak jelas. Pemeriksaan pun selesai. Ibu dokter tak berkata banyak. Beliau memberi resep lagi, dan memberi surat rujukan agar aku bisa diperiksa di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tegal, karena peralatan di klinik itu tak begitu lengkap. Ya, dokter mengatakan bahwa aku harus diperiksa di rumah sakit. Batinku bertanya-tanya. Rumah sakit?? Benarkah?? Ya, rumah sakit, tempat yang hingga kini aku takuti, entah karena apa. Yang jelas, aku takut dengan suara yang ditimbulkan oleh roda yang berjalan di rumah sakit, entah itu bangsal, dorongan pembawa peralatan periksa, kursi roda, atau dorongan pengantar makanan. Aku tak kuasa membayangkan suara-suara itu. Entahlah, bagiku, itu menakutkan.

Aku masih harus meminum obat resep dokter dan secepatnya harus diperiksa di rumah sakit. Beberapa hari kemudian, ibuku mengajakku untuk periksa mata di rumah sakit. Ya, meski ragu, aku tak menolak ajakan ibu, karena itu pun perintah dokter, dan demi kebaikanku. Kali ini berbeda, dari mulai mengurus administrasi hingga menebus obat, kita harus mengantre lebih lama. Kursi-kursi putih yang panjang terlihat ramai diduduki orang-orang yang menunggu namanya dipanggil dari ruang periksa. Jika saat itu aku merasa takut, mungkin bukan takut akan diperiksa, tetapi takut kalau sampai mendengar suara-suara roda itu.

“Intan Khairunisa!!” Setelah cukup lama menunggu, namaku terdengar dari ruang periksa. Ya, aku siap diperiksa. Kulihat dua papan tes mata yang berisi huruf dan angka. Kali ini ada lebih dari satu orang yang mengenakan pakaian putih-putih di ruangan itu. Aku tak mengerti apakah mereka semua dokter atau ada di antara mereka yang menjadi suster. Entahlah. Ibuku menceritakan keluhanku kepada orang-orang yang mengenakan pakaian putih-putih itu. Aku dipersilakan duduk di kursi yang dibelakangnya ada sekumpulan kaca berbentuk lingkaran yang diletakkan dalam boks yang bentuknya tak jauh berbeda dengan koper. Aku tak mengerti untuk apa kaca berbentuk lingkaran sebanyak itu. Aku menepis keingintahuanku. Pemeriksaan dimulai. Satu per satu, kusebutkan huruf-huruf yang ditunjuk oleh dokter. E, Z, A, D, F, C, dan semakin ke bawah, huruf-huruf itu terlihat semakin tak beraturan. Jika tidak terlihat jelas, kukatakan tidak jelas. Hingga akhirnya aku dipakaikan frame kacamata yang tak ada kacanya. Kemudian satu per satu kaca berbentuk lingkaran itu dicoba, dimasukkan ke frame besar yang kupakai, apakah aku bisa melihat jelas dengan bantuan kaca-kaca itu ataukah tidak. Semakin tebal kaca itu, aku semakin dapat melihat dengan jelas. Dokter yang ada di depan terus menunjuk huruf dan angka secara acak, sementara seorang dokter yang lain terus mengganti lensa yang tepat hingga aku dapat melihat huruf dan angka itu dengan jelas. Ya, ternyata yang kukira kaca-kaca berbentuk lingkaran itu bukan kaca biasa, melainkan lensa. Maklum saja, waktu itu usiaku belum genap delapan tahun, sehingga aku belum mengetahuinya. Semua huruf yang kecil dapat kusebutkan dengan benar, tentu saja dengan bantuan lensa yang cukup tebal. Dokter menyuruhku berjalan dengan tetap mengenakan kacamata periksa itu. Dokter menanyakan apakah aku pusing jika harus berjalan dengan menggunakan kacamata atau tidak. Kukatakan tidak, karena memang aku tak merasa pusing melihat dengan bantuan kacamata itu. Dokter mengangguk. Tes mata pun usai.

Kemudian dokter meletakkan penggaris mika yang lepek dan berwarna kuning – yang tak jarang digunakan untuk mainan teman laki-lakiku dengan menggosokkan penggaris itu ke rambut mereka dan ketika potongan kertas kecil didekatkan, maka akan tertarik dan menempel di penggaris itu – di bawah bola mataku, dan menyuruhku berjalan dengan tetap melihat penggaris lepek itu, entah apa maksudnya, hingga kini aku tak mengerti. Pemeriksaan pun berakhir. Dokter mengatakan bahwa mata kananku minus 6,5 dan mata kiriku minus 4,5. Sontak, ibu tercengang mendengar pernyataan dokter. Ya, ibu nyaris tak percaya mataku langsung minus sebanyak itu. Aku tak mengerti apa maksud dari minus itu, apakah sakitku sudah amat parah, dan apa yang harus kulakukan, aku tak mengerti. Aku hanya diam membisu. Diam seribu bahasa. Menatap ibu. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirku. Hati kecilku bergetar, dan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi denganku? Mengapa ibu terlihat begitu terpukul dengan pernyataan dokter? Dokter mengatakan bahwa aku harus segera memakai kacamata jika ingin dapat melihat dengan jelas. Kacamata itu, kelak harus selalu kupakai, kecuali pada saat-saat tertentu, yaitu ketika berwudhu, sholat, tidur, dan mandi. Ya, aku HARUS MEMAKAI KACAMATA.

……………………………………………….

About primandita

a Man who loves engineering

One response »

  1. musaropah says:

    mandan terharu bacanya…
    judulnya mamaku pahlawanku itu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s